(Opini) MEREFLEKSIKAN PERUBAHAN PERILAKU DEMONSTRAN PADA DEMONSTRASI 25 AGUSTUS 2025
Beberapa waktu lalu, Indonesia menjadi perhatian dunia karena terjadi demonstrasi besar-besaran oleh masyarakat untuk menuntut perbaikan atau bahkan “pembubaran” DPR. Demonstrasi tersebut berlangsung sejak tanggal 25 Agustus.
Dalam kacamata politik, demonstrasi adalah sesuatu yang baik bagi perkembangan dan kemajuan negara. Namun saya menemukan bahwa dari waktu ke waktu demonstrasi yang terjadi memperlihatkan kejanggalan. Demonstrasi tersebut mulai kehilangan arah dan tujuannya dan berubah menjadi medan kerusuhan.
Awalnya di tanggal 25 Agustus 2025, gelombang demonstrasi pertama terjadi. Motivasinya adalah menuntut perbaikan DPR sebagai lembaga aspirasi masyarakat agar menghasilkan kebijakan yang lebih empati, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Tetapi kemudian demonstrasi ini berubah menjadi kerusuhan, karena massa hilang kendali dengan peristiwa yang terjadi di lapangan. Bentrokan menjadi tidak terhindarkan. Massa menjadi liar dan aparat berubah menjadi represif.
Kecurigaan besar saya setelah mengikuti perkembangan berita dan mendengarkan opini beberapa pihak dapat disimpulkan bahwa ada otak dan kaki tangan yang menjadi dalang di balik kerusuhan yang dilakukan oleh masyarakat.
Menurut keyakinan saya, dalang tersebut kemungkinan besar bersembunyi di pemerintahan dengan motivasi ingin memiliki kuasa lebih. Dalang tersebut ingin mengadu domba pemerintah dengan masyarakat sehingga hancur kedua-duanya. Hannah Arendt, seorang filsuf pernah berkata bahwa kekuasaan tidak pernah menjadi tujuan itu sendiri tapi selalu menjadi sarana untuk mencapai tujuan lain. Mungkinkah ini yang sekarang terjadi?
Dari hasil analisa saya, dalang tersebut bergerak dengan cara-cara sederhana. Pertama, membuat akun-akun "ternak" di media sosial untuk memprovokasi masyarakat. Misalnya dengan hastag dan tuntutan kepada DPR supaya dibubarkan. Postingan-postingan dibumbui dengan ajakan untuk bertindak destruktif terhadap pemerintah. Argumentasi disusun dengan sangat baik sehingga menyulutkan kemarahan masyarakat. Alhasil mereka menjadi lebih agresif. Kedua, beberapa oknum dari pihak misterius diterjunkan ke lapangan untuk mengawasi dan memastikan bahwa rencana mereka dapat berjalan sesuai skenario yang telah disusun. Menariknya, beberapa aksi dalam demonstrasi dijadikan “bumbu” untuk semakin memperkeruh tujuan masyarakat. Misalnya peristiwa kekerasan yang dilakukan aparat, mobil rantis brimob yang menabrak warga sipil sehingga meninggal. Peristiwa-peristiwa naas tersebut dikemas dengan tulisan-tulisan provokatif di media sosial sehingga menyulutkan kemarahan banyak orang, dan parahnya itu berhasil mendistraksi masyarakat dari tujuan awalnya yang mulia.
Masyarakat pada akhirnya hadir berdemo untuk melampiaskan kemarahan mereka. Tidak ada yang peduli lagi dengan cita-cita mulia untuk mereformasi internal pemerintahan yang kacau dan berat sebelah agar lebih baik. Semua sibuk untuk menghancurkan pemerintah bahkan semua pihak yang berusaha untuk melindungi pemerintahan tetap berjalan kondusif. Orang-orang tidak bersalah pun menjadi sasaran kekerasan, aksi pun mulai merebak kesana kemari, konsekuensinya aparat memang harus bertindak tegas. Sebab mereka punya alasan untuk bertindak represif demi keselamatan bersama.
Jadi semua ini ujungnya dimana? Akhir yang saya bayangkan dengan keadaan seperti sekarang adalah runtuhnya pemerintahan. Tidak ada lagi DPR dan sejenisnya. Tidak ada lagi lembaga yang menyalurkan aspirasi masyarakat. Lahirlah kekuasaan tunggal atau dipimpin sekelompok orang tertentu.
Skenario lainnya adalah pemerintahan dikembalikan ke rakyat. Terserah masyarakat mengatur kehidupannya masing-masing. Ketika nanti ada bentrok kepentingan maka segala cara bisa dihalalkan untuk menjaga kepentingan masing-masing. Sebaliknya untuk memenuhi kepentingan masing-masing, segala cara juga bisa dihalalkan masyarakat. Hukum ada di tangan masing-masing orang. Tidak ada yang bisa melarang atau menindak, karena setiap orang punya wewenang sebagai yang pemegang hukum itu sendiri.
Yang mau saya tegaskan di sini adalah demonstrasi yang tujuan awalnya baik dan mulia telah berubah menjadi aksi destruktif, liar, dan salah sasaran. Kita tidak sadar sedang diperdaya di tengah demonstrasi yang dibuat. Maka saya ingin mengajak kita semua untuk berjaga-jaga dan jangan sampai kewalahan. Mari berpikir terbuka dan ingat tujuan luhur dari aksi yang dilakukan. Jangan sampai akhirnya demonstrasi yang kita lakukan berubah menjadi arena berdarah justru karena ketidakmampuan kita untuk membaca siasat lain di balik suatu aksi. Jangan mau mati sia-sia tanpa membawa perubahan.